Sumedang – DPPKBP3A Kabupaten Sumedang melalui Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) menyiapkan pendampingan pemulihan psikologis bagi seorang anak yang diduga mengalami perundungan atau bullying hingga berhenti sekolah.
Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada DPPKBP3A Sumedang, Ekki Riswandiyah, mengatakan pendampingan dilakukan untuk membantu anak mengatasi rasa takut dan dampak psikologis akibat perundungan yang pernah dialaminya.
"Berdasarkan hasil asesmen, anak tersebut belum bersedia kembali bersekolah karena khawatir mengalami perundungan serupa. Namun, setelah ditanya mengenai kemungkinan melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat, anak itu menyatakan bersedia," kata Ekki kepada Tahu Ekspres, Jum'at (9/10/2026).
Ekki menjelaskan UPTD PPA akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang untuk menindaklanjuti kemungkinan anak tersebut kembali mengenyam pendidikan.
"Selain membantu akses pendidikan, UPTD PPA akan mendampingi anak tersebut untuk mendapatkan layanan pemulihan psikis dan penguatan mental. Langkah ini diharapkan membantu anak membangun kembali kepercayaan diri, semangat belajar, serta kesiapan untuk kembali menjalani aktivitas pendidikan dan sosial," tambahnya.
UPTD PPA juga meminta aparat desa setempat melalui Pak Ici agar memfasilitasi anak tersebut mengakses layanan gratis di Mal Pelayanan Publik (MPP) Sumedang.
Layanan yang direncanakan meliputi pendampingan psikososial lanjutan, hipnoterapi, dan layanan psikolog. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu anak mengatasi rasa takut dan mengurangi kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya perundungan kembali.
Di sisi lain, nenek dari pihak ayah kandung menyatakan mendukung agar cucunya kembali bersekolah. Namun, nenek memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari karena saat ini juga mengasuh dan membiayai tiga orang cucu.
Bantuan biaya dari ayah kandung disebut berkisar Rp200.000 hingga Rp400.000 per minggu untuk kebutuhan ketiga cucunya, termasuk anak tersebut.
"Melalui pendampingan psikologis, fasilitasi layanan, dan koordinasi lintas instansi, kami berharap anak tersebut dapat memulihkan kondisi mentalnya dan memperoleh kesempatan untuk kembali melanjutkan pendidikan," pungkasnya.