• Kamis, 15 Oktober 2026

Rekan Yogi Ungkap Percakapan Terakhir Sebelum Almarhum Tewas Dibunuh, Singgung Isu Utang dan Harapan Hukuman Bagi Pelaku

Photo Author
Ridwan Marwansyah, TahuEkspres.com
- Kamis, 15 Oktober 2026 | 13:18 WIB
Foto terakhir almarhum bersama komunitas STONERS Kamis (8/10/2026) sekira pukul 08.00 WIB saat menyalurkan uang donasi ke anggota STONERS di Paseh (Foto : Komunitas STONERS)
Foto terakhir almarhum bersama komunitas STONERS Kamis (8/10/2026) sekira pukul 08.00 WIB saat menyalurkan uang donasi ke anggota STONERS di Paseh (Foto : Komunitas STONERS)

Sumedang – Rekan Yogi Saparudin (35), pengemudi transportasi daring yang ditemukan tewas terkubur di kawasan perkebunan teh Margawindu, Sumedang, mengungkap percakapan terakhirnya dengan korban. Sebelum Yogi ditemukan tewas, keduanya sempat membahas tarif perjalanan ke Tanjung Enim, Sumatera Selatan, hingga berencana bertemu untuk ngopi pada Kamis (8/10/2026) sekira pukul 09.50 WIB.

Rekan Yogi dari Komunitas Stoners, Wanda Nugraha, mengatakan korban sempat menanyakan perhitungan ongkos perjalanan ke Tanjung Enim. Yogi meminta saran mengenai skema tarif, apakah menggunakan sistem borongan atau sewa kendaraan sekaligus jasa pengemudi.

Wanda kemudian menyarankan Yogi menggunakan sistem sewa harian agar perhitungan biaya kendaraan dan jasa pengemudi lebih jelas. Adapun biaya operasional, seperti BBM, tol, dan kebutuhan lainnya, ditanggung pelanggan.

"Saya jawab, menurut saya supaya tidak ribet mending sewa harian. Jadi mobil dihitung sehari berapa untuk keluar provinsi, terus jasa kita sebagai sopir berapa," kata Wanda saat diwawancarai Tahu Ekspres di tempat berkumpul komunitas driver online Stooner, Selasa (13/10/2026).

Menurut Wanda, pembicaraan tersebut masih berkaitan dengan pekerjaan. Ia tidak mengingat adanya pembahasan lain dalam percakapan terakhir mereka.

Dalam percakapan terakhir itu, Wanda sempat menanyakan posisi Yogi. Korban menjawab sedang berada di kawasan galian dan membawa pesanan secara offline.

Wanda kemudian mengajak Yogi mampir ke rumahnya di Cibeureum setelah menyelesaikan pekerjaannya. Mereka berencana mengobrol sambil ngopi.

"Terakhir ditanya sama saya, sekarang di mana. Katanya sudah di galian, bawa orderan offline. Saya bilang, kalau sudah beres, ke rumah saja. Kebetulan rumah saya di Cibeureum, sekalian ngobrol ngopi," tuturnya.

Wanda juga mengenang kebersamaannya dengan Yogi dan sejumlah rekan lain pada Kamis. Saat itu, mereka sempat pergi bersama ke kawasan Nyalindung menggunakan satu mobil.

Kenangan tersebut menjadi salah satu momen kebersamaan Wanda dengan Yogi sebelum kasus pembunuhan itu terungkap.

Wanda turut menanggapi dugaan motif pembunuhan yang dikaitkan dengan persoalan utang piutang senilai Rp 25 juta. Ia berharap persoalan tersebut diungkap secara transparan berdasarkan bukti dalam proses hukum.

Menurut Wanda, dugaan utang tidak seharusnya menjadi dasar kesimpulan apabila tidak didukung bukti. Sebaliknya, jika terdapat bukti, persoalan itu perlu diperiksa sesuai ketentuan hukum.

"Soal utang piutang kalau memang tidak terbukti ya harus dihilangkan, tapi kalau memang ada buktinya ya tinggal seperti apa dan bagaimana kita mengikuti. Pokoknya yang pengen terbukti lah," ujarnya.

Wanda mengaku yakin Yogi akan terbuka kepada istrinya jika memang memiliki utang, sekecil apa pun nilainya.

"Da saya yakin almarhum selalu bilang kalau punya utang sekecil apa pun ke istrinya," tambahnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Ridwan Marwansyah

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X